Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan
 
Putri Mandalika

   Lek jaman laek to Pante Kute Pulau Lombok arak sopok kerajaan sak aren Tonjang Beru. Sekiter kerajaan ni tepinak kamar-kamar beleq. Kamar ni tekadu jari taoq bdait raje-raje . Negeri Tonjang Beru ni teperintah isiq Raja sak terkenal isiq kepacuanne raja nu aren Raja Tonjang Beru bekeq seninen Dewi Seranting. Iye bdoe sekeq anak nine, aren Putri Mandalika. Demen putri wah beleq, sik inges jarin. Iye sanget sikne solah. Maten maraq ruen bintang lek timuq. Sangkepne maraq pauh di laying. Selain inges putri terkenal ramah bekeq sopan. Unin ngeraos lembut. Iye wah beng putri jari idaman rakyat. Selapuq dengan bengaq bdoe raje sak arif sak mele tulung rakyat sak susah. Berkat tetulung sik raje rakyat negeri Tonjang Beru irup makmur, aman bekeq sentosa. Keingesan putri mandalika sanget terkenal langan ujung timuq sampe ujung bat Lombok. Keingesan putri terengah siq pangeran-pangeran sak lek Lombok. Maraq lek kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha bekeq kerajaan Beru. Selapuq pangeran berangen. Selapukne teller gitaq ingesne putri. Selapuqne saling besaing, sai tao mrariq kance putri Mandalika. Dengan ate sak lemah lembut, putri Mandalika tolak ye. Para pangeran kakoq ime. Due pangeran gedeq rengah nu. Iye adalah pangeran Datu Terune bekeq pangeran Maliawang. Masing-masing lek kerajaan Johor bekeq Lipur. Datu Terune kirim Arya Bawal bekeq Arya Tebuik lalo ngelamar, dengan ancaman hancur kerajaan Beru anden lamaranne tetolaq. Pangeran maliawang mengirim Arya Bumbang dait Arya Tuna kadu ancaman sak pade.

Putri mandalika 2

      Putri Mandalika ndek peduli, bekeq  Datu terune lepasan senggeger utusaning Allah, sedang Maliawang tiup senggeger jaring sutra. Kekuatan kedue senggeger ni ndek ne mempan lek putri, muen kdue pangeran penggitan barengan. Ndek tao mangan, ndek tao tindoq. Jarin putrid kurus gero. Selapuq dengan Tonjang beru aseq. Kembeqn putrid tolaqn? Laguk, selain rasa cinta yak muni, iye kendah ngerase menanggung tanggung jawab sak belek. Yakn timbul bencane seanden putri pileq salaq sekeq pangeran nu. Dalam semadi, sang putri mauk wangsit yak undang slapuq pangeran dalam pertemuan tanggal 20 bulan 10 sak gae subuh nu. Bebarengan kance rakyat masing-masing. Selapuq sak teundang tesuruk dateng kumpul  lek pante Kute. Sak ndek teduge-duge para pangeran dateng, bekeq rakyat pnoq dating. Pantai ni mak ruen tekerumpun sik teres. Arak sak dateng due jelo sendek man tesuruk. Kanaq- kanaq sampe papuq-papuq dateng sengaq teundang sik putri. Iye mele nyaksian brembe saang putri yakn pileq. Temue bedelokan dateng lek slapuk wilayah Lombok. Selapuk ngumpul dengan sabar ngantih kdatengan putri. Marak unin janji, sang putri dateng se ndek man ngebang. Pas demen langit beak lek timuq, sang putri sak inges dateng kadu onsongan emas. Prajurit kerajaaan lampak lek kiri, bekeq kanan bekeq murin tuan putri. Pengawalan sak ketat, slpauq undangan ngantih bejelo-jelo ngangaq gitaq keingesan putri. Tuan putri dateng kadu gaun sak solah. Kadu bahan kain sutra sak halus. Ndrak maraq ke ngonekn, tuan putri lampaq, trus mentelah lek bawon batu, temuriq segare. Lek to tuan putri nganjeng trus gitaq selapuq tmue undangan. Tuan putrid ngeraos singket, laguk berisi, umuman keputusan ye dengan suare sak nyuraq: “ wahai amaq inaq bekeq selapuq pangeran dait rakyat Tonjang Beru sak sik ku tunah. Jelo ni aku putusan bahwa aku ni umak kamu slapu’an. Aku ndek ke tao pileq salaq sekeq pangeran. Sengaq ni takdir sak tekehendaki adek sak aku jari Nyale saak bau tekaken bareng-bareng lek bulan bekeq tanggal sak sugul nyale lek segare.

Putri mandalika 1

       Bebarengan dait berahirne unin sak nu slapuq pangeran pade bingung rakyat kendah pade bingung bekeq beketuan trus mikiran unin sak baruk nu. Ndek te duga-duga putrid teteh dikn langan atas batu nu trus timpoh dikn jok segare sak langsung te gulung sik ombak segare tebarengan sik angin deres, kilat bekeq petir menggelegar. Ndarak tande-tande tuan putri araq lek to. Demen sak pade kebingungan sugul lah binatang kode-kode sak penok sak nane te sebut aren nyale. Binatang nu mak ruen longe. Pikiran slpauq dengan ye wah jelmaan tuan putri. Trus rame-rame slapuk berlomba-lomba bait binatang nu penok-penok yakn kaken jari rasa cinta kasih  dait jari kakenan bekeq keperluan lain.

Niki Cerita Video animasi Piaan batur lombok sak nyeritaang putri mandalika :




Cerita by : Syahfur Bakhtiar
“Di sini, kalau pemuda melamar anak gadis secara baik-baik justru keluarga si gadis akan merasa diremehkan,” ucap Pak Seman, salah seorang penduduk Desa Sade Rambitan, di Lombok Tengah. “Terus gimana dong, Pak?” saya jadi makin penasaran.

Pak Seman menjelaskan bahwa sudah tradisi masyarakat Suku Sasak bahwa seorang gadis harus diculik terlebih dahulu sebelum dinikahkan. Jadi di masa kini, apabila seorang pemuda dan gadis sudah saling tertarik, mereka akan merencanakan penculikan. Di malam hari, si pemuda akan menculik si gadis dari rumahnya. Esoknya, ketika keluarga mengetahui anak gadisnya diculik, kemudian akan merencanakan pernikahan mereka berdua. Unik, bukan?

Desa Sade Rambitan adalah satu dari sedikit desa Sasak asli yang masih bertahan. Saat ini masih ada 150 keluarga yang menghuni desa ini. Menurut Pak Seman, desa ini sudah berdiri sejak tahun 1097 dan sudah ditinggali oleh 15 generasi.
Lumbung padi dengan bale-bale di bawahnya. (Olenka Priyadarsani)
Dari jalan raya, terlihat rumah-rumah tradisional suku Sasak yang beratapkan ijuk – terbuat dari jerami yang dikeringkan. Ada juga bangunan beratap melengkung, serupa dengan bentuk gedung Bandara Internasional Lombok. Ternyata, kata Pak Seman, itu adalah bentuk khas Pulau Lombok. Bangunan tambahan tersebut merupakan tempat untuk menyimpan padi yang sudah dipanen. Di bawahnya terdapat bale-bale untuk bercengkerama selain juga menjaga padi agar tidak dicuri.

Penduduk Desa Sade sebagian besar memang bertani padi, namun padi hasil panen tidak untuk dijual, melainkan untuk konsumsi pribadi. Mereka juga beternak kambing, sapi, dan kerbau.

Saya semakin tertarik untuk mendengar sejarah desa ini. Walaupun bersentuhan dengan dunia modern – listrik sudah ada sejak tahun 2001 – kehidupan masyarakat masih tradisional. Para lelaki mengenakan sarung dan perempuan memakai kain.
Penduduk juga menjual kerajinan tangan untuk para wisatawan. (Olenka Priyadarsani)
Untuk menambah penghasilan, mereka menenun kain dan membuat kerajinan tangan yang dijual pada wisatawan yang berkunjung. Kebetulan Sade Rambitan sudah menjadi desa wisata sejak tahun 1980-an.
Kain tenun yang dijual di Desa Sade. (Olenka Priyadarsani)
Proses membuat kain tenun sangat menarik karena dilakukan dari awal sampai akhir secara manual. Pewarnaan kain menggunakan tanaman, tidak ada bahan pewarna kimiawi. Hanya benang emas yang mereka beli.
Nenek pemintal benang. (Olenka Priyadarsani)
Seorang nenek terlihat sedang memintal kapas menjadi benang. Di sisi lain, seorang gadis muda berusia awal belasan tahun sedang menenun benang menjadi selendang. Di desa ini, anak gadis berusia 9-10 tahun sudah mulai diajari menenun kain.
Rumah tertua di desa ini, dengan lantai dilapisi kotoran kerbau. (Olenka Priyadarsani)
Kami tiba di rumah tertua yang ada di desa tersebut. Rumah tradisional suku Sasak terbagi menjadi dua ruangan. Ruangan bagian dalam adalah tempat untuk tidur anak-anak mereka yang masih gadis, merangkap sebagai dapur. Dapur terdiri dari tungku yang menyatu dengan tanah. Ruangan tersebut tertutup rapat hingga gelap gulita karena sinar matahari tidak dapat masuk. Ternyata itu dimaksudkan agar anak gadis mereka tidak mudah diculik. Dinding-dinding rumah terbuat dari anyaman bambu.

Yang paling unik dari rumah-rumah tradisional di sini adalah lantainya. Sudah umum apabila rumah tradisional berlantaikan tanah. Tapi berapa banyak yang dilapisi oleh kotoran kerbau? Rumah-rumah di Desa Sade ini secara berkala dipel menggunakan kotoran kerbau. Yang dahulu hanya berlantai tanah, karena kotoran kerbau tersebut, kini lantainya keras seperti disemen. Hingga kini, lantai rumah masih dipel dengan kotoran kerbau untuk menjaga agar tetap keras.

Dahulu kita sering mendengar bahwa Suku Sasak menganut agama Islam, namun menjalankan salat wajib 3 kali sehari – disebut Wektu Telu. Agama Islam yang demikian dahulu banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu Bali. Menurut Pak Seman, di Desa Sade saat ini ajaran tersebut sudah tidak dilaksanakan karena masyarakatnya sudah menjalankan shalat wajib lima kali sehari.

Desa Sade Rambitan ini hanya berjarak 5 km dari Bandara Internasional Lombok, hanya sekitar 30 menit dari Mataram. Walaupun pendidikan sudah merambah generasi muda di desa ini dan desa-desa sekitarnya, pernikahan pada usia muda masih sering ditemui. Sangat umum seorang gadis berusia 14-15 tahun dinikahkan.

Indonesia memiliki ratusan desa tradisional seperti Sade ini, yang layak untuk dilestarikan. Saya mengucapkan selamat tinggal pada Pak Seman dan melanjutkan perjalanan untuk melihat pantai-pantai baru di Lombok Selatan yang luar biasa cantik.

Sumber: id.yahoo.com
Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.
pulau lombok 
Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.
Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)
 [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.
Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.
Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.
Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). 
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.
Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.
Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.

Bupati Zaini Resmikan Pembangunan Monumen Lombok Barat Bangkit
Bupati Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) Zaini Arony, Jumat (26/4/2013), tepat pukul 20.00 WITA, meresmikan pembangunan Monumen Lombok Barat Bangkit yang dibangun ditengah bundaran Bandara Internasional Lombok (BIL) di Kecamatan Gerung.
Pembangunan monumen ini mempergunakan dana daerah tahun anggaran 2012, dan selesai dibangun  awal 2013 lalu. Monumen Lombok Barat Bangkit menempati lahan seluas 174 meter persegi dengan disamping kanan dan kirinya terketak bangunan  taman kota milik Badan Lingkungan Hidup (BLH).
Zaini mengaku, monumen Lombok Barat menunjukkan kondisi kehidupan beragama di Lombok Barat yang nyata. Dengan ornamen kubah masjid di atasnya menunjukkan identitas Lombok Barat yang sudah lama dikenal dengan daerah seribu masjid.
Ditambahkannya, tidak jauh dari bangunan monumen ini, pemerintah daerah (Pemda) Lombok Barat akan membangun pusat perbelanjaan dan rumah zakat. Kedua bangunan tersebut ditargetkan selesai dalam lima tahun ke depan.
Di tempat sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lombok Barat Robijono Pratijanto mengatakan, komplek perempatan BIL di  Gerung merupakan hasil kerjasama Dinas PU dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Barat, serta BLH Lombok Barat.
Untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang telah dibangun BLH di samping monumen, menelan biaya Rp 894 juta. Sementara  untuk monumen sendiri RP 2,7 miliar. Kedua bangunan ini  berdiri pada median jalan Gerung BIL dengan luas 1,5 hektar. Sedangkan lokasi bangunan monumen di atas tanah  seluas 55 are.
Monumen Lombok Barat dilengkapi tiga jenis air mancur dengan panjang luncuran 15 meter. Kelistrikan yang disiapkan untuk menerangi monumen berdaya 75 ribu watt. Monumen dilengkapi dengan kolam renang dan alat pemutar lagu yang mengiringi tarian air mancur.
“Monumen ini diharapkan dapat semakin mempercantik jalan menuju bandara yang akan terus diperpanjang hingga lingkar selatan Kota Mataram,” tegas Robijono.
Diving Ekstrem Dikelilingi Hiu di Teluk Belongas, Lombok
 Ketegangan tidak hanya bisa dicari dari ketinggian, tapi juga dari bawah laut. Rasakan sensasi menyelam sambil memandangi kawanan hiu martil dengan arus yang kuat. Inilah Teluk Belongas, spot diving paling ekstrem di Indonesia.
Bagi Anda yang suka diving dan suka tantangan, masukkan Teluk Belongas di dalam daftar destinasi adrenalin yang harus dikunjungi. Berada di barat daya Pulau Lombok, Teluk Belongas menawarkan pengalaman menyelam yang tiada duanya.
Letaknya berjarak 1,5 jam perjalanan laut dari Teluk Belongas. Ada satu spot yang hanya bisa dimasuki oleh diver profesional yang sudah memiliki lisensi. Menurut Instruktur Oddy Dive yang bernama Michael Sjukrie, titik tersebut bernama Magnet Point.
“Tingkatan bahaya diving di titik tersebut sudah termasuk ekstrem,” tuturnya kepada detikTravel, Rabu (6/3/2013).
Menurut Michael, satu atraksi yang paling menarik di sana adalah kawanan hiu martil. Tidak hanya satu, akan banyak sekali hiu martil yang bisa ditemui jika Anda sedang beruntung.
“Jika ingin lihat hiu martil, harus diving saat ombaknya sedang besar,” lanjut Michael.
Hanya ada satu titik untuk masuk ke Magnet Point, yaitu di batu karang besar yang ada mercusuar. Masalahnya, menurut Michael, butuh waktu cepat untuk masuk ke dalam titik tersebut. Jika terlalu lama, Anda akan terbawa arus.
“Masuknya harus saat ombak sedang besar. Setelah itu, langsung terjun ke dalam dan berenang ke bawah secepatnya,” kata Michael.
Tantangan pertama ada di turun ke bawah hingga kedalaman 25 meter. Sampai kedalaman 3 meter, tidak ada yang bisa dilihat selain buih ombak. Setelah itu barulah air terlihat lebih jelas.
Nah, inilah tantangan kedua. Di kedalaman sekitar 25 meter, menurut Michael, Anda tidak bisa menempel pada batu karang karena bisa kembali terbawa ke atas, namun tidak bisa juga terlalu jauh karena bisa terseret arus.
“Maka dari itu, harus diving dengan instruktur yang sudah berpengalaman dan kenal betul dengan medan itu,” ucap Michael.
Salah satu diver yang pernah menyelam di The Magnet adalah Nila Tanzil. Menurutnya, dibutuhkan minimal linsense diving Advance yang dikeluarkan oleh PADI dan setidaknya harus sudah 100 kali diving.
“Diving di The Magnet itu memang banyak tantangannya karena arus bisa berubah kapan saja dan arusnya tidak bisa diduga,” kata salah seorang diver yang pernah mencoba menyelam di Magnet Point, Nila Tanzil.
Nila pun berbagi pengalaman, seorang diver yang tidak mengikuti instrukturnya malah terbawa arus. Karena terlalu asyik memotret kawanan baracuda, salah seorang diver lepas dari kelompok dan malah terbawa arus. Meski sudah berusaha naik ke atas dengan bantuan oksigen, ia tetap tidak bisa naik. Beruntung instruktur melihat dan segera menolongnya.
“Jadi tipsnya, jangan jauh-jauh dari titik aman juga instruktur dan ikuti petunjuknya,” tutup Nila.
Tempat Tercantik Melihat Pantai di Lombok
Lombok di Nusa Tenggara Barat punya banyak pantai yang indah. Nah, salah satu tempat tercantik melihat kecantikan pantainya ada di Bukit Malimbu 2. Dijamin terpukau!
Para pecinta pantai pasti memasukkan Lombok di dalam daftar destinasi favorit karena banyaknya pantai indah dan perawan di sana. Jika sedang tak ingin berenang dan hanya ingin melihat keindahan perairan Lombok dari atas, bisa datang ke Bukit Malimbu 2.
Bukit Malimbu 2 terletak di Lombok Utara, di tepian jalan menuju 3 Gili. Mengapa dinamakan Bukit Malimbu 2 karena sebelumnya sudah ada Bukit Malimbu. Menurut salah seorang pemandu wisata yang bernama Deni, tadinya Bukit Malimbu tidak bisa diakses karena tidak ada jalan.
Namun dengan hadirnya jalan untuk memudahkan akomodasi di Lombok, maka terbukalah bukit tersebut. Di satu titik tikungan, tersisa daerah kosong yang bisa digunakan sebagai tempat parkir kendaraan yang ingin melihat keindahan perairan Lombok, atau yang ingin menikmati cantiknya sunset.
Bukit Malimbu 2 memiliki pemandangan yang berbeda dengan Bukit Malimbu 1. Ada jalan buntu di ujungnya, dengan hiasan pohon kelapa di kiri dan kanan. Tak sedikit wisatawan yang membidik kamera ke segala arah untuk menangkap panorama nan menarik di sana.
Laut yang biru dipadukan dengan deretan pohon membuat hasil foto terlihat dramatis. Belum lagi ada beberapa perahu layar atau perahu nelayan yang melintas, menyempurnakan pemandangan yang tersaji.
Pengunjung bisa mendatangi bukit ini dari pagi hingga sore hari. Saat matahari masih bersinar, pelancong disajikan pemandangan laut nan biru. Sedangkan saat sore, momen matahari tenggelam pun jadi suguhan utama.

Sade Raih Penghargaan Desa Wisata

Desa Sade yang dihuni suku Sasak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, berhasil meraih penghargaan nasional sebagai desa wisata yang mampu melaksanakan gerakan sadar wisata dan aksi sapta pesona.
“Desa Sade berhasil menjadi juara harapan satu pada lomba desa  wisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, HL Jazuli Azhar di Praya, Lombok Tengah, Selasa (20/7/2010).
Sementara itu, peraih penghargaan desa wisata pertama adalah Desa Karang Banjar, Kecamatan Bojongsari Tengah, Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah. Pemenang kedua Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Peraih penghargaan ketiga adalah Desa Wisata Kebon Agung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut Jazuli, penghargaan desa wisata tersebut diserahkan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Firmansyah Rahim di Jakarta, Minggu (18/7/2010).
Desa Sade mendapat penghargaan setelah berhasil menyisihkan 59 desa lainnya dari 25 provinsi di Indonesia. “Kita cukup bangga dengan prestasi ini, meskipun kita juara harapan,” kata Jazuli.
Kriteria yang dinilai pada pemberian penghargaan desa wisata  ini diantaranya kegiatan masyarakat yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan usaha kepariwisataan dan mampu menciptakan manfaat bagi kesejahtraan masyarakat.
Selain itu, penerapan nilai nilai sapta pesona di desa wisata dan penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan serta memiliki propek pertumbuhan usaha masyarakat yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan kepariwisataan.
Dari empat kriteria yang dinilai tersebut, lanjutnya, hampir seluruh aspek penilaian sudah dipenuhi. Beberapa kelemahan masih ada, seperti kelengkapan data dan keorganisasian. “Ke depan harus kita benahi bersama segala kekurangan itu,” kata Jazuli.

Observatorium Lombok Jadi Ikon Wisata

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ingin observatorium magnetik Lombok menjadi salah satu simbol wisata daerah. Dengan demikian, mampu menarik kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.
Penjabat Bupati Lombok Tengah, Junaidi Najmuddin, menyampaikan hal ini seusai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pembangunan observatorium magnetik Lombok di Mataram, Rabu (3/11/2010).
Kerja sama terjalin antara Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dengan Universitas Mataram (Unram) dan The Helmholtz Zentum Postdam Deutsches Geoforschungs Zentrum (GFZ) Jerman.
“Kami berharap observatorium magnetik Lombok ini bisa menjadi simbol wisata kebanggaan, selain Bandara Internasional Lombok (BIL) dan kawasan wisata dunia yang akan dibangun di pantai selatan Lombok Tengah,” katanya.
Observatorium merupakan gedung yang dilengkapi alat-alat seperti teleskop dan teropong bintang untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang dan lainnya.
Menurut Junaidi, pihaknya menyediakan lahan seluas satu hektar di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, sebagai lokasi pembangunan observatorium magnetik Lombok. Penyediaan lahan tersebut sebagai bagian dari kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Unram, dan GFZ Jerman.
Junaidi berharap observatorium ini akan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Lombok Tengah. Selain itu, observatorium ini bisa meningkatkan pengetahuan yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Lombok Tengah.
Kondisi Kabupaten Lombok Tengah saat ini memang membutuhkan sentuhan pembangunan dari berbagai bidang. Dengan demikian, mampu berdiri sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia, khususnya di NTB.
“Saya berharap dengan adanya observatorium magnetik Lombok bisa menjadikan masyarakat Lombok Tengah menjadi masyarakat yang sejahtera dan berbasis keilmuan,” katanya.
Rektor Unram, Prof. H. Sunarpi, mengatakan, pihaknya juga menginginkan agar observatorium magnetik Lombok yang akan dibangun mulai November 2010 hingga Agustus 2011 bisa menjadi salah satu obyek wisata ilmiah di Indonesia.
Gedung pengamatan magnetik bumi ini nantinya bisa dimanfaatkan kalangan mahasiswa dan dosen, hingga kalangan siswa, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas, dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
“Observatorium magnetik Lombok ini bisa dijadikan sebagai salah satu pusat studi ilmiah karena didukung peralatan canggih bantuan dari Jerman. Apalagi semua data yang dihasilkan nantinya masuk dalam jaringan informasi geomagnetik internasional,” katanya.
Mandalika sebagai Kawasan Wisata Smart Resort segera terwujud

Kerja keras, Pemerintah Provinsi NTB dibawah kepemimpinan Gubernur Dr. TGH. M. Zainul Majdi, untuk mengembangkan kawasan mandalika, Tanjung Aan, Kabupaten Lombok Tengah, sebentar lagi akan menuai hasil.
“Alhamdulillah, Berkat dukungan dari berbagai pihak dan seluruh warga NTB, kawasan wisata Mandalika resort akan segera kita kembangkan menjadi wisata smart resort, mungkin yang pertama di dunia,” ujar Gubernur, saat gelar pertemuan dengan pihak perusahaan pemenang lelang “Beauty Contest” Pengembangan Kawasan Mandalika, Tanjung Aan  di Hotel Novotel, Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (21/1/2013).
Perusahaan tersebut, yaitu, Club Med perusahaan berbasis di negara Prancis, MNC Land, PT. Gobel International, akan bekerjasama dengan PT. BTDC terkait pengelolaan kawasan wisata di pesisir selatan pulau Lombok tersebut.
Orang nomor satu di Bumi Gora itu, menyatakan, nantinya pengelolaan kawasan tersebut lebih ditekankan pada pemeliharaan lingkungan serta memberikan jaminan keamanan investasi bagi investor.
“Pengembangan kawasan Mandalika resort ini, lebih kita tekankan pada konservasi lingkungan, sehingga wisatawan yang datang kesini tidak hanya berwisata tapi juga turut menjaga kelestarian lingkungan”, tegas TGB sapaan akrab gubernur NTB itu. Pemerintah daerah juga akan bekerja keras, memastikan pengembangan kawasan tersebut, terlaksana dengan baik, tegasnya.
Gubernur termuda di Indonesia itu, juga mengharapkan, pengerjaan proyek tersebut bisa dilaksanakan secepatnya dan perusahaan pengelola konsisten, “Saya berharap proyek ini bisa segera dimulai, dan kepada pengelola harus memastikan keasrian dan keindahan lingkungan di kawasan tersebut, serta, memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut,” harapnya.
Pada kesempatan berbeda, perwakilan perusahaan pemenang Beauty Contest, Rachmat Gobel, CEO PT. Gobel international, sangat mengapresiasi kerja keras dari Gubernur Dr. TGH. M. Zainul Majdi. “Kalau saya jadi warga NTB, saya akan bangga karena memiliki Gubenur yang selalu menjemput bola, tanpa pernah kebobolan, Beliau bisa menjadikan mimpi menjadi sebuah visi. Pengembangan kawasan ini mengusung tema “smart resort” yakni turut membangun masyarakat, memberdayakan seluruh kekayan alam NTB, hasil bumi, maupun hasil lautnya dengan kualitas yang tinggi, serta lebih berwawasan lingkungan, mungkin NTB akan menjadi smart provinsi pertama di dunia dan smart resort  ini pertama di dunia,” sanjungnya.

TIDAK sepopuler obyek wisata Gili Terawangan (Lombok Utara), atau Pantai Kute (Lombok Tengah), Pantai Pink belum banyak dikenal. Pantai ini terletak di Dusun Temeak, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, atau 82 kilometer arah tenggara Kota Mataram.

Masyarakat lokal menyebutnya Pantai Tangsi, meski nama ini kian terkubur oleh sebutan Pantai Pink. Disebut pink karena pasirnya berwarna putih bercampur serpihan terumbu karang warna merah. Jika terkena air laut, dan sinar matahari sore atau pagi, butiran-butiran pasir halusnya berubah warna menjadi merah muda. Kabarnya, di dunia ada tujuh pantai yang pasirnya berwarna merah muda seperti di Bahama, se- dangkan di Indonesia ada juga di Pulau Komodo.

Adapun nama Tangsi dikarenakan seputar kawasan itu, seperti Pantai Tanjung Ringgit— berhadapan dengan Samudra Indonesia, atau 1 kilometer tenggara Pantai Pink—dijadikan markas tentara Jepang dalam Perang Dunia II.

Adanya meriam di Pantai Tanjung Ringgit sekitar 1 kilometer dari Pantai Pink ini, ataupun goa dengan lorong yang menembus perut bukit sepanjang sekitar 50 meter yang berhadapan dengan Pantai Pink, adalah bukti yang memperkuat bahwa sekitar wilayah itu sebagai barak militer tentara Dai Nippon. Artinya berwisata ke Pantai Pink selain menyaksikan panorama alam pesisirnya yang ”tampil beda” sekaligus melakukan wisata sejarah.

Pantai Pink di Lombok Timur ini bertetangga dengan beberapa pantai di kiri-kanannya, seperti Pantai Temeak dan Pantai Colong yang juga berpasir putih. Mereka dipisahkan oleh bukit karang sehingga untuk mengunjungi dua pantai ini cukup berjalan kaki dan mendaki bukit itu. Hanya saja, beberapa kawasan pesisir itu justru sudah ”dikuasai” para pemilik modal.

Dari atas tebing itu, wisatawan umumnya menyaksikan panorama alam laut lepas, degradasi warna air laut, ditambah serakan gumpalan awan yang berarak, membuat suasana sepi pantai terasa sangat romantis.

Lanskapnya yang datar cocok untuk berkemah. Air lautnya yang jernih mengundang hasrat untuk mandi. ”Malah belum sah rasanya ke Pantai Pink kalau Anda tidak mandi,” kata Iswan Rahmadi, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berpromosi.

Tapak pantainya pun lumayan lebar dengan panjang dari ujung timur ke barat sekitar 500 meter. Bila berjemur di atas pasirnya yang halus laksana tidur di atas kasur empuk. Asalkan cuaca cerah, Anda bisa menyaksikan Gunung Rinjani yang berada di utara pantai itu.
Fasilitas terbatas

Lantaran fasilitas dan transportasi umum ke Pantai Pink belum tersedia sebaiknya menyewa mobil atau sepeda motor dari Mataram. Perjalanan Mataram-Pantai Pink ditempuh 2,5 jam. Fasilitas akomodasi pun masih minim, meski kalau mau menginap ada beberapa bungalo yang dikelola pemodal, berjarak sekitar 4 kilometer dari pantai ini, dengan tarif 185 dollar AS (Rp 1,7 juta) per malam.

Lebih baik juga membawa bekal sendiri karena di sana tidak ada warung. Kalau sekadar mau minum, ada warga setempat menyediakan minuman air mineral, atau kopi saset, maupun mi instan.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Gufran mengatakan, Pemkab Lombok Timur menganggarkan dana untuk pengadaan fasilitas, perbaikan jalan agar memudahkan akses bagi wisatawan yang melancong ke Pantai Pink.

Terbatasnya angkutan ditopang pula oleh buruknya jalan sepanjang 14 km mulai dari jalan utama ke pantai tersebut. Jalan aspalnya mengelupas, menampakkan ”keasliannya”: jalan tanah, berlubang, bergelombang, disertai sejumlah tanjakan. Jalan yang melintasi kawasan hutan lindung Sekaroh ini berdebu saat kemarau. Ketika musim hujan, jalan bertanah liat ini di beberapa tempat menjadi ”bubur”, bak monster yang melumat roda kendaraan sehingga ”jalan di tempat”.

Namun, segala penat dalam perjalanan akan terbayar oleh fenomena eksotis Pantai Pink yang nan elok. Biar percaya, silakan buktikan sendiri

1.    Senjata khas lombok
a.       Kelewang
Kini gilir tampil pedang khas tentara khusus kerajaan Lombok era bahula. Kisaran tahun penciptaan berkisar rentang 1700 – 1800 Masehi. Sebagaimana diungkap dalam buku “Keris Lombok” karangan Bapak Ir. Lalu Djelenga. Masyarakat umum di Lombok lebih sering menyebut Klewang. Julukan yang hampir sama bagi semua jenis pedang. Pasukan tentara kerap menyandang di bagian tubuh-punggung belakang. Bentuk bilah besi terhunus dengan lengkungan khas. Ujung mata pedang meruncing pada sisi bilah bagian yang tajam. Pamor pada pangkal bilah sangat kontras dengan tera motif yang kian tampil cantik. Terutama pada bagian tengah bilah hingga ujung. Rentang panjang bilah capai 50 cm.
Warangka terbuat dari kayu hitam. Tidak lazim seperti umumnya bahan warangka keris khas Lombok, bersanding kayu Berora Pelet. Sedikit memberi kesan tegas dan garang. Namun masih bernuansa estetis dengan tambahan asesoris, segmen bungkus lempeng perak dan kuningan. Ukiran motif minimalis hanya terdapat pada bagian hulu warangka.
Bagian handel. Terbuat dari bahan tanduk yang di-ukir dengan motif khas Lombok. Diperindah lagi dengan pembungkus berbahan perak. Sedikit lebih tebal dibanding lempengan pada warangka. Dibuat hingga menutup dataran pangkal tancap bilah. Berfungsi lingkar selut.

b.      Pemaje
Pemaje bukan kategori senjata tajam. Sekedar sebagai alat pendukung keperluan rutinitas harian. Bukan fungsi tikam layaknya keris maupun belati khas tradisional lainnya. Tapi keberadaan-nya sebagai benda etnografi khas Lombok turut mewarnai khazanah ikonik budaya. Seperti pernyataan tidak resmi, referensi artikel di salah satu media. Ungkap seorang tokoh lokal menyebut dengan kelakar ringan. Pemaje adalah sekedar alat cungkil 'duri' yang menyusup di jari kaki. Pada pelaksanaan upacara adat sasak, kadang pemaje juga tampil sebagai asesoris wajib sandang. Cuma tidak seperti penempatan keris yang disematkan pada pinggang belakang. Pemaje kerap di sisipkan pada posisi depan perut. Rada miring terselip di ikat pinggang depan kain busana adat. Bisa ber-bilah tunggal maupun ganda (dual bahkan triple) dalam satu penampilan cover warangka. Secara umum tipe hulu model kecil, kurus-lurus. Lancip tumpul pada ujung hulu. Melebih ukuran satu genggam telapak. Bilah hanya pada salah satu asah miring tajam, sementara penampang sisi bilah lain sengaja dibikin datar. Antara bilah dan hulu terpasang semacam selut, pembungkus pangkal hulu. Warangka bisa terbuat dari berbagai pilihan bahan kayu, juga tanduk. Bisa polos maupun bermotif ukir. Khusus kayu, jenis khas yang dipakai hulu kerap pakai Berora Pelet. Temuan lain biasanya kayu Kemuning. Hal yang tidak "lumrah" sebenarnya. Namun sisi strata tampilan, kemuning cukup bagus sebagai penambah aura estetis. Terlebih berhias pendok material logam. Kian percantik performa. Berikut ada beberapa paritas contoh pemaje yang sempat terdokumentasi-kan.

2.    Rumah adat khas Lombok
 
Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya. Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.
3.   Tarian Khas Lombok
a.      Gendang Beleq
Gendang Beleq adalah salah satu diantara beragamnya seni budaya tradisional lombok dalam bentuk seni kreatif dengan musik dan tari tradisional yang menggunakan alat –alat musik pentatonic tradisional lombok yang berupa gendang besar dan seperangkat alat musik pukul, seni musik dan tari tradisional .
Gendang Beleq pada awalnya adalah merupakan jenis ritual yang di gunakan untuk mengantar para prajurit yang akan pergi ke medan laga. Seiring dengan bergulirnya waktu dan pergantian generasi , maka fungsi tersebut bergerak dinamis. Sehingga saat ini tampilannya digunakan untuk penyambutan para tamu dan kelengkapan upacara / acara- acara budaya adat sasak.
b.      PERESEAN
Masyarakat komunitas Sasak memiliki banyak macam seni, ada seni pertunjukan tertutup, terbuka, teater kolosal dan Drama tradisional, disamping itu, ada pula yang tidak kalah menariknya yaitu Peresean, seni peresean ini menunjukkan ketangkasan, kedigdadayaan seorang pepadu / jawara, kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa emosional para Raja dimasa lampau ketika menerima mendapat kemenangan dalam perang tanding melawan musuh-musuh Kerajaan, disamping itu para pepadu (pemain /pelaku ) pada peresean ini mereka mengji ketangkasan,ketangguhan dan kedigdayaan ( kepawaian) dalam bertanding.
Adapun alat yang dipakai dalam Peresean ini antara lain sebagai berikut : Masing-masing pepadu/pemain yang akan bertanding membawa sebuah periai (ende) dipegang dengan tangan sebelah, dan disebelah lagi memegang alat pukul yang terbuat dari sebilah rotan, dalam pertanding ini dipimpin oleh seorang wasit ( Pekembar ), pekembar ini ada dua macam. Ada pekembar sedi / pinggir ini akan menanding pasangan bertarung, sedangkan pekembar tengaq akan memimpin pertandingan, pada umumnya para pepadu yang bertarung oleh pekembar mempunyai awiq-awig dengan menggunakan sistem ronde atau tarungan, masing-masing pasangan bertarung selama lima ronde, yang akhir ronde / tarungan tersebut ditandai dengan suara pluit yang ditiup oleh pekembar tengaq ( yang memimpin pertandingan ).
c.       Tarian Tradisioanal Sasak Oncer

Kata Oncer berasal dari kata “Ngoncer” yang artinya berenang. Tari ini dinamakan demikian karena gerakan pokok tarian ini diambil dari gerakan ikan sepat yang berenang.
Dalam bahasa Sasak disebut pepait ngoncer (ikan sepat berenang). Tari oncer sangat erat hubungannya dengan gamelan Gendang Beleq. Gendang Beleq dipukul sambil menari dengan gerakan yang khas. Gamelan Gendang Beleq banyak terdapat di Pulau Lombok. Gamelan Gendang Beleq pada zaman dahulu dipergunakan dalam peperangan oleh raja-raja di Lombok, untuk memberikan semangat bagi prajurit-prajuritnya da lam pertempuran. Bilamana pertempuran sudah selesai, Gendang Beleq dipukul sambil menari dan men jadi hiburan bagi para prajurit. Tarian itulah yang disebut oncer
Tari oncer adalah ciptaan Lain Muhammad Tahir dari desa Puyung Lombok Tengah pada tahun 1960. Tarian Oncer ciptaan Lalu Muhammad Tahir ini merupakan tarian bersama yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu enam atau delapan orang pembawa kenceng disebut penari kenceng, dua orang pembawa gendang disebut penari gendang, dan sate orang pembawa petuk disebut penari petuk. Masing-masing kelompok membawakan gerakannya sendiri-sendiri
4.   Bahasa Adat Pulau Lombok
Bahasa Sasak dipakai oleh masyarakat Pulau Lombok, propinsi Nusa Tenggara Barat. Bahasa ini mempunyai gradasi sebagaimana bahasa Bali dan bahasa Jawa. Bahasa Sasak serumpun dengan bahasa Sumbawa.
Bahasa Sasak mempunyai dialek-dialek yang berbeda menurut wilayah, bahkan dialek di kawasan Lombok Timur kerap sukar dipahami oleh para penutur Sasak lainnya. Sebagai contoh, kawasan antar rukun warga (RW) yang hanya berjarak 500 meter sudah memiliki dialek yang sangat berbeda.
5.   Kerajinan Tembikar
Salah satu kerajinan yang berasal dari LOmbok (sasak) adalah " Tembikar".
Kerajinan yang terbuat dari tanah ini dapat menghasilkan berbagai model dan bentuk yang indah dan cantik. Ada tiga daerah yang menjadi pusat pembuatan tembikar di LOmbok,di antaranya adalah " banyumulek,masbagik timur dan penujak.
6.   Kerajinan Tenun
Selain karena keindahannya, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga terkenal karena produksi kain tenunnya. Seperti di Desa Sukarara, Lombok Tengah, di tempat ini kain tenun masih diproduksi secara manual kain tenun atau dikenal dengan kain songket adalah ciri khas dari Pulau Lombok. Kain songket merupakan kain tenunan yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan, hiasan dibuat dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsi, terkadang juga ada yang dihiasi dengan manik-manik, kerang atau uang logam. Sekarang ini pusat pengrajin kain songket adalah desa Sukarara, disinilah jika ingin membeli kain tenun tradisional khas Lombok, serta melihat bagaimana para penenun melakukan pekerjaannya. Lokasinya terletak 25 km dengan kendaraan dari kota Mataram. Desa ini sangat menarik untuk dikunjungi karena kegiatan sehari-hari masyarakat di desa ini telah menenun. Ciri khas tenunan dari desa Sukarara ini adalah tenunan memakai benang emas, desa ini telah dikenal menjadi salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh para tamu nusantara maupun mancanegara.
7.   Alat transportasi Pulau Lombok
Cidomo atau kadang disebut Cimodok adalah alat transportasi tenaga kuda khas pulau Lombok, secara fisik kendaraan ini mirip dengan delman atau andong yang terdapat di pulau Jawa Perbedaan utamanya dengan delman atau andong adalah alih-alih menggunakan roda kayu, cidomo menggunakan roda mobil bekas sebagai rodanya. Sampai saat ini alat transportasi ini masih menjadi sarana utama transportasi terutama pada daerah-daerah yang tidak dijangkau oleh angkutan publik dan daerah-daerah sentra ekonomi rakyat seperti pasar.
Cidomo merupakan singkatan dari cikar, dokar, dan mobil (Montor dalam bahasa Sasak). Asal-muasal cidomo sendiri kurang tau persis sejak kapan ada di pulau lombok, Kendaraan ini bermula dari alat transportasi tradisonal yang bernama Cikar atau biasa diketahui sebagai kendaraan tradisonal yang ditarik oleh kudakan tapi di khusus kan untuk mengangkut barang bukan penumpang.
Dokar sendiri merupakan alat transportasi tradisonal yang ditarik oleh kuda tetapi di khususkan digunakan untuk mengangkut penumpang. Dokar banyak juga ditemukan dibeberapa daerah di indonesi nama lain dari dokar di beberapa daerah adalah Delman.
Tapi yang membuat Cidomo ini begitu unik adalah karna penggunaaan Ban Mobil sebagai Roda, seperti yang kita ketahui delman atau dokar menggunakan roda dari bahan kayu. Pada zaman dulu juga dokar yang ada di pulau lombok menggunakan roda dari kayu yang didisain khusus sesuai dengan kondisi dokar tersebut.
8.    Suku Lombok
Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, namun hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktek ibadah seperti itu. Ada pula sedikit warga suku Sasak yang menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama "sasak Boda".

9.    Merarik : Upacara Pernikahan Khas Sasak, Nusa Tenggara Barat

Membicarakan pernikahan Sasak, tidak bisa tidak membicarakan merarik, yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. Merarik sebagai ritual memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merarik atau belum. Tulisan Bartholomen di atas secara jelas menunjukkan bahwa merarik merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam. Tradisi khas Sasak Lombok yang juga ditampilkan dalam pawai budaya adalah Nyongkolan. Merupakan prosesi yang dilakukan oleh sepasang pengantin usai upacara perkawinan. Dengan mengenakan busana adat yang khas, pengantin dan keluarga yang ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat atau pemuka adat beserta sanak saudara, berjalan keliling desa. Tradisi ini juga merupakan sebuah bentuk “pengumuman” bahwa pasangan tersebut sudah resmi menikah. Hingga saat ini, Nyongkolan masih tetap berlangsung dan kerap menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan di Mataram dan sekitarnya.

10.     LAGU KHAS DAERAH LOMBOK

Suku Sasak, yang mendiami Pulau lombok hanya memiliki sedikit lagu daerah yang benar benar asli alias tradisional. Lagu daerah sasak yang kini banyak dijumpai dan didengarkan di rumah rumah Masyarakat Lombok, telah banyak mengalami evolusi, mulai dari lirik dan musik pengiringnya.  Dulu, kecimol; yang merupakan kombinasi gendang beleq, organ dan suara seruling , pernah sangat populer di masyarakat Sasak walau kesan para pendengar langsung berubah dari menyaksikan pertunjukan musik tradisional menjadi pertunjukan Musik Daerah yang didangdutkan, belum lagi kalau mendengarkan lagu penyanyinya yang mengambil lagu dangdut popular. Sebelum Kecimol, ada cilokaq. Lain dengan kecimol, cilokaq berusaha mempertahankan ketradisionalan musiknya, walau lagu yang diiringi (yang masih berbahasa sasak) merupakan ciptaan musisi sekarang. Saya pribadi lebih menganggap Musik Tradisional Lombok adalah cilokaq dari pada kecimol. Walau, yang benar benar asli masih ada seperti lagu Kadal Nongak, tapi sudah sangat sulit untuk menemukan rekaman lagu tersebut. Di Komunitas Sasak sendiri, ada lagu yang menjadi semacam lagu wajib dan sering didengarkan terutama ketika berada diluar lombok, salah seorang dari mereka yang kini tinggal di Belanda bahkan bilang ke saya bahwa setiap dua hari sekali beliau selalu memutar ulang lagu tersebut. Ada yang air matanya selalu keluar ketika mendenagrkannya, adaa juga yang merasa terpanggil untuk segera kembali ke Lombok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Timur provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Gufranuddin mengatakan, Lombok Audax akan dimulai 27 April 2013.

Lombok Audax merupakan salah satu even mengelilingi daerah menggunakan sepeda goncang, dengan rute perjalanan sepanjang 400 kilo meter (KM).

Disebutkan, jumlah peserta Lombok Audax 2013 sebanyak 100 orang dari berbagai negara. “Pesertanya juga berasal dari negara asing,” ungkapnya di ruang utama (Rupatama) Kantor Bupati Lombok Timur, Rabu (23/4/2013).

Peserta Lombok Audax 2013 akan mengelilingi pulau Lombok, mulai dari Senggigi, Kayangan, hingga tembus ke pulau Lampu Lombok Timur dan menjelajah pantai bagian selatan. “Peserta akan melintas di jalan raya pinggir Lombok,” ujarnya.

Gufran menjelaskan, tujuan pelaksanaan Lombok Audax adalah untuk memperkenalkan potensi pariwisata di NTB, khususnya di kabupaten Lombok Timur yang termasuk salah satu daerah yang kaya dengan potensi pariwisata.

Menurut Gufran, Lotim memiliki banyak pariwisata yang siap “dijual” kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Diharapkan melalui even ini mampu mendongkrak perkembangan pariwisata Lombok di tingkat nasional dan internasional,” harap Gufran.


Pengerjaan pembangunan dan pengembangan taman hiburan rakyat Loang Baloq oleh PT Mas Murni Sejahtera (MMS) bakal segera terwujud. Saat ini, MMS sedang proses finishing desain taman yang berada di Kota Mataram provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.

Di hadapan sejumlah pejabat teras Pemerintah Kota Mataram, Direktur Utama PT MMS Agung Laksamana melakukan presentasi desain finishing rencana pembangunan taman makam Loang Baloq di ruang rapat Sekda Kota Mataram, Selasa (23/4/2013).

Dalam presentasinya, Agung Laksamana menjelaskan, rencana pembangunan Mataram Ecowalk Loang Baloq akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, pembangunan hotel, tahap kedua pembangunan mall serta tahap ketiga berupa penataan ruang publik yang akan dilakukan setelah mengantongi ijin dari Pemkot Mataram.

‘’Mall yang dibangun berlantai tiga dengan luas area 27.300 meter persegi. Lahan parkirnya saja seluas 12.380 meter persegi. Di dalamnya akan tersedia supermarket, departemen store, cinema dan game center,’’ terang Agung.

Sementara untuk hotel, PT MMS akan membangunnya diatas lahan seluas 14.947 meter persegi dengan desain 11 lantai berkapasitas 180 kamar dan lahan parkir seluas 2.940 meter persegi.

Perusahaan yang bernaung di bawah Helindo Grup ini juga merencanakan membangun function room seluas 1.230 meter persegi yang mampu menampung hingga 1.300 orang. Khusus area taman yang sudah ada seluas 1,5 hektar, masih perlu dibenahi.

Agung menargetkan, dalam enam bulan ke depan desain bisa difinalisasi. Selanjutnya dilakukan penuntasan administrasi serta penyelesaian gambar dari sisi teknis. Sementara pengerjaan fisik direncanakan bisa dimulai bulan Oktober mendatang.

‘’Hotel ditargetkan selesai tahun 2015, sedangkan mall tahun 2016 sudah bisa diselesaikan,’’ ungkap Agung.

Sementara itu, Sekda Kota Mataram H. Lalu Makmur Said mengatakan, finalisasi desain akan segera dilanjutkan dengan tahapan sosialisasi dengan melibatkan seluruh SKPD terkait, hingga Camat dan Lurah.
‘’Bersamaan dengan proses sosialisasi, segala perijinan juga sudah disiapkan,’’ ujar Sekda.


Pemerintah Kabupaten Lombok Timur provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan Gili Sunut yang berada di wilayah Kecamatan Jerowaru, tidak dikuasai oleh perorangan atau investor.

“Pada dasarnya, suatu gili atau pulau kecil, tidak boleh dikuasai secara perorangan atau perusahaan atau suatu badan usaha,” kata Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Kesra Sekretariat Daerah (Setda) Lombok Timur, HM Aminullah.

Diakuinya, banyak investor yang ingin menanamkan modalnya di gili tersebut, namun hingga saat ini masih dalam proses.

Dikatakannya, proses perijinan memang rumit. Hal itu dilakukan guna meminimalisir investor. “Dari dulu banyak yang tertarik, tetapi ketika orang (investor) dihadapkan dengan berbagai proses perijinan, mereka mundur,” ungkapnya.

Tinggal satu investor yang masih bertahan dan kini tinggal menunggu ijin dari pemerintah daerah.

“Total luas lahan gili itu harus ada tersisa 10 persen dari luas lahan yang ada untuk bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar,” katanya.

Sementara yang berkaitan diluar gili, juga memiliki perijinan tersendiri. Namun tetap tidak merugikan warga sekitar.

Investor, lanjut Amin, memang diharapkan untuk mengembangkan gili-gili yang ada di Lombok Timur karena melihat perkembangan pariwisata yang mulai berkembang dengan baik.
“Jika pariwisata baik, secara tidak langsung kesejahteraan masyarakat di sekitar pariwisata tersebut juga ikut membaik,” jelas Amin.

Copyright © 2012 Forum Komunikasi Mahasiswa Lombok-DIY.